Upah di Jalan Gunung Hujan turun tipis ketika Dara berdiri di awal jalan gunung, dengan tangan dekat gagang pedangnya. Mako menunggu di bawah pohon, sementara jalan batu itu naik ke dalam kabut. Lelaki tua itu menyerahkan kantong kulit yang berat. Semua upah ada di dalamnya, meski Dara belum menginjak jalan. Dara membuka kantong itu dan menghitung uang keping. “Kalian membayar di muka?” “Supaya urusan kita selesai dengan bersih,” kata Mako. “Urusan apa?” Mako memandang kabut. “Sesuatu menutup jalan.” Dara mengikat kantong pada sabuknya. “Beruang, perampok, atau roh?” “Kalau kami punya nama untuk itu, kami akan menyebutnya.” Jawaban itu membuat Dara menatap uangnya lagi. Upah di muka selalu berarti majikan takut pekerjanya tidak akan kembali. Mereka mulai naik, dan lumpur segera menelan mata kaki mereka. Dara belum makan sejak pagi, sedangkan bau roti keluar dari tas Mako setiap kali angin berbalik. Di tikungan ketiga, mereka menemukan seekor kuda mati di tengah jalan. Perutnya terbuka, tetapi tidak ada jejak gigi pada dagingnya. “Ini bukan pekerjaan binatang,” kata Dara. Mako meremas tali tasnya. “Karena itu kami mencari pedang.” Kabut bergerak di antara batu, lalu suara uang keping berbunyi dari atas. Kantong pada sabuk Dara menjawab dengan bunyi kecil yang sama. Sesuatu merangkak turun memakai empat tangan manusia. Tubuhnya seperti lumpur yang dicampur tulang, dan sebuah jimat tembaga tertanam di dadanya. Dara menarik pedang. “Siapa yang memasang jimat itu?” Mako tidak menjawab, jadi Dara menendang lututnya. “Jawab.” “Kami hanya ingin penjaga,” katanya. “Perampok sering datang, dan sihir itu murah.” “Tidak ada sihir yang murah.” Makhluk itu melompat. Dara menebas satu tangan, tetapi tangan yang putus tetap merayap menuju kantong uang. Pedangnya menggigil, seolah besi itu hidup dan ketakutan. Sihir jarang bekerja dua kali dengan cara yang sama, dan orang waras tidak menunggu percobaan ketiga. Dara merobek kantong dari sabuknya lalu melemparkannya ke jurang. Makhluk itu berhenti, namun hanya dua tangannya yang mengikuti bunyi uang. Dua tangan lain berbalik kepada Mako. Dari balik bajunya terdengar bunyi uang keping yang lebih berat. “Apa itu?” tanya Dara. “Bayaran untuk membawamu pulang,” kata Mako. Makhluk itu menerkam sebelum Dara sempat mengutuk. Mako jatuh ke lumpur, dan jimat di dada makhluk itu menyala sebentar lalu pecah. Semua tangan menjadi diam. Hanya hujan yang bergerak di atas tubuh Mako dan tulang-tulang yang kini terpisah. Dara membersihkan pedangnya pada baju lelaki itu. Ia mengambil tas Mako, menemukan roti basah, lalu menggigitnya sambil berjalan turun.