Bis Pagi Setiap pagi, Nara menunggu bis di depan rumahnya. Hari ini hari terakhir Nara naik bis itu. Bima sudah berada di dalam bis. Ia duduk dekat pintu dan melihat Nara datang. Nara masuk, lalu berdiri di dekatnya. "Pagi," kata Bima. Nara melihatnya. "Pagi." "Kamu mau pergi kerja?" "Ya. Kamu juga?" "Ya. Tapi hari ini terakhir." Nara memegang tasnya lebih kuat. "Terakhir naik bis ini?" "Ya. Besok aku pergi ke kota lain. Aku punya pekerjaan baru." Bis bergerak. Nara berdiri tanpa melihat Bima. "Kamu sudah tahu kapan?" tanya Nara. "Sudah lama. Aku baru berani bicara hari ini." Nara menoleh. "Kenapa hari ini?" Bima melihat pintu bis. "Karena besok aku tidak ada di sini." Nara diam. Orang-orang masuk dan keluar. Bis berhenti di depan toko, lalu berjalan lagi. "Aku sering melihat kamu di sini," kata Bima. "Aku juga sering melihat kamu." "Kamu selalu berdiri di tempat yang sama." "Kamu selalu duduk di tempat yang sama." Bima tertawa sedikit. Nara juga tertawa. "Aku ingin bertanya," kata Bima. "Tanya saja." "Namamu siapa?" Nara melihatnya. "Nara. Namamu?" "Bima." "Aku sudah tahu namamu." Bima terkejut. "Dari mana?" "Temanmu memanggil kamu kemarin." "Jadi kamu mendengar?" "Aku mendengar semuanya." Bis kembali berhenti. Nara melihat jalan di luar. "Bima, kamu pergi berapa lama?" "Aku tidak tahu. Mungkin satu bulan. Mungkin lebih." "Lalu kamu kembali?" "Aku akan kembali kalau bisa." Nara menunduk. "Aku tidak suka jawaban itu." "Aku juga tidak suka pergi." Untuk beberapa saat, hanya suara bis yang terdengar. Bima mengambil telepon dari sakunya. "Bolehkah aku meminta nomor kamu?" Nara belum menjawab. "Untuk apa?" "Untuk memberi kabar. Untuk bicara. Untuk bertemu setelah aku kembali." "Kamu akan menelepon?" "Aku akan menelepon." "Setiap hari?" "Kalau kamu mau." Nara menyebutkan nomornya. Bima menulisnya, lalu menelepon. Telepon Nara berbunyi. "Sekarang kamu punya nomor aku," kata Nara. "Ya. Sekarang aku punya nomor kamu." Bis berhenti di depan kantor Nara. Nara turun, tetapi belum pergi. "Bima." "Ya?" "Besok aku tetap datang ke sini." Bima berdiri. "Untuk apa?" "Menunggu kamu kembali." Bima turun dari bis. Nara memegang tangannya. "Jangan hanya memberi kabar," kata Nara. "Kembali juga." Bima melihat tangan mereka. "Aku akan kembali." Nara melepaskan tangannya. Bis pergi, dan Bima tetap berdiri di jalan.