Piring Murah Pagi ini Sari membuka warung nasinya di Yogyakarta. Hari ini Sari harus membayar uang rumah. Ia menghitung uang di bawah meja. Uangnya belum cukup untuk hari ini. Bima datang dengan tas sekolah. Ia duduk di kursi dekat pintu. Sari mengambil piring dan nasi. “Seperti biasa, Bu Sari,” kata Bima. “Nasi murah?” tanya Sari. “Nasi murah, Bu. Yang paling murah.” Sari memberi nasi, telur, dan sedikit sayur. Bima melihat piring itu, lalu melihat uangnya. Ia punya sedikit uang hari ini. “Berapa, Bu?” “Lima ribu.” Bima membuka tasnya. Ia menghitung uang di tangannya. Uang itu hanya empat ribu. “Bu, saya punya empat ribu.” Sari melihat uang itu. Ia juga melihat nasi di piring. “Biasanya kamu punya lima ribu.” “Ya, Bu. Hari ini uang saya kurang.” “Kamu makan dulu.” “Tapi uangnya kurang.” “Tidak apa-apa. Makan dulu.” Bima mengambil sendok. Ia makan pelan-pelan. Sari kembali menghitung uang di bawah meja. Ia menghitung sekali, lalu menghitung lagi. Uangnya tetap belum cukup. Bima melihat meja yang kosong. Ia melihat piring kotor di dekat Sari. “Bu, saya bisa bekerja.” “Bekerja apa?” “Saya bisa mencuci piring.” “Kamu harus pergi ke sekolah.” “Masih ada waktu, Bu.” Sari melihat jam di dinding. Waktu sekolah belum mulai. Di warung hanya ada Sari dan Bima. “Cuci tiga piring,” kata Sari. “Untuk satu ribu?” “Untuk satu ribu.” Bima berdiri dan membawa piring. Ia mencuci piring di belakang warung. Air jatuh ke tanah. Sari membuat nasi untuk orang lain. Ia melihat Bima, lalu melihat uangnya. Bima kembali membawa tiga piring bersih. “Sudah, Bu.” Sari melihat piring itu. Semua piring bersih. “Ini satu ribu.” Bima menerima uang itu. Ia menaruh uangnya bersama uang lain. “Sekarang cukup, Bu,” katanya. “Sekarang cukup.” Bima berdiri dan membawa tasnya. Ia berhenti di depan pintu. “Besok saya tetap pesan nasi murah.” “Besok kamu bawa lima ribu?” “Kalau tidak, saya cuci piring lagi.” Sari mengambil satu piring kosong dari meja. Bima membuka pintu warung. “Besok datang lagi,” kata Sari. Bima mengangguk, lalu pergi ke sekolah.