Tiket Pertama Aku berdiri di depan bioskop pada sore pertama. Hari ini adalah hari kerja pertamaku. Tanganku memegang pakaian kerja berwarna merah. Uang sekolah bulan depan belum cukup. Bos bioskop bernama Raka membuka pintu depan. Dia melihat jam, lalu melihat wajahku. “Kamu Nara?” tanya Raka. “Ya, Pak. Saya datang lima menit lebih cepat.” “Bagus. Tapi film mulai tiga menit lagi.” “Harus saya lakukan apa?” “Jual tiket, beri uang kembali, lalu diam.” “Kenapa harus diam?” “Karena aku sedang melihat film.” Raka menunjuk layar kecil di belakang meja. Sebuah film lama sedang berjalan tanpa suara. “Bapak sedang bekerja atau menonton?” tanyaku. “Dua-duanya,” jawab Raka. “Aku tahu semua film.” Seorang gadis datang ke meja depan. Namanya Mira, dan dia memakai pakaian kerja sama. “Kamu anak baru?” tanya Mira. “Ya. Aku Nara.” “Aku Mira. Jangan percaya semua kata bos.” “Aku mendengar itu,” kata Raka. “Tentu. Bapak tahu semua suara juga.” Mira berdiri di sebelahku dan membuka kotak uang. “Satu tiket berapa?” tanyaku. “Dua puluh ribu,” jawab Mira. “Kalau dua tiket?” “Empat puluh ribu.” “Kalau tiga tiket?” “Bos akan menjawab dari belakang.” “Enam puluh ribu,” kata Raka dari belakang. Mira menutup kotak uang dengan keras. Seorang pria datang dan meminta dua tiket. Aku menerima uangnya dan mulai menghitung. “Empat puluh ribu,” kataku. “Benar,” kata Mira. “Film itu berakhir buruk,” kata Raka. Pria itu berhenti mengambil tiketnya. “Pak, jangan katakan akhirnya,” kata Mira. “Aku belum mengatakan akhirnya.” “Bapak mengatakan filmnya berakhir buruk.” “Itu bukan akhir. Itu pendapat.” Pria itu mengambil tiket dan segera pergi. Mira melihatku. “Sekarang kamu mengerti masalahnya.” “Dia benar-benar tahu semua film?” “Coba tanya.” Aku menunjuk film pada layar kecil. “Apa kata berikutnya?” tanyaku. Raka melihat layar tanpa suara. “Dia akan bilang, ‘Jangan buka pintu itu.’” Pria dalam film membuka mulutnya. Tulisan muncul di bawah gambar. Jangan buka pintu itu. “Bagaimana Bapak tahu?” tanyaku. “Aku menonton film itu dua belas kali.” “Kenapa dua belas kali?” “Karena tiga belas kali terlalu banyak.” Mira tertawa, lalu segera menutup mulut. Dua orang muda datang membeli tiket. Tanganku mulai bergerak lebih cepat. Aku menerima uang dan memberi uang kembali. “Dua tiket, empat puluh ribu,” kataku. “Benar,” kata Mira. “Ruang film ada di kanan,” kataku. “Benar,” kata Raka. “Film berakhir buruk,” tambah Raka. “Pak,” kata kami bersama-sama. Teleponku berbunyi di dalam pakaian merah. Pesan dari ibu muncul di layar. Apakah pekerjaanmu baik? Aku mengetik jawaban dengan satu tangan. Baik, Bu. Aku sudah menjual empat tiket. Mira melihat pesan itu, tetapi tidak bicara. Dia hanya menggeser kotak uang lebih dekat padaku. Seorang perempuan datang dan meminta satu tiket. Aku memberi tiket yang salah. “Bukan film itu,” kata perempuan itu. “Maaf. Saya anak baru.” “Aku tahu,” katanya. “Pakaianmu masih sangat bersih.” Mira mengambil tiket salah dari tanganku. “Coba lagi,” katanya. Aku mengambil tiket yang benar dan memberikannya. “Sekarang benar?” tanyaku. “Sekarang benar,” jawab perempuan itu. Raka melihat layar kecil lagi. “Sebentar lagi dia akan membuka pintu,” katanya. “Jangan katakan akhirnya,” kata Mira. “Itu bukan akhir.” “Lalu apa?” tanyaku. “Itu awal masalahnya.” Pintu bioskop terbuka, dan banyak orang masuk. Mira menatapku dan menunjuk kotak uang. “Siap?” tanyanya. Aku membuka kotak uang. “Dua tiket, empat puluh ribu.”