Daftar di Bawah Meja Raka sedang menunggu bus di kafe kecil. Hari ini ia harus pulang sebelum malam. Bus ke selatan pergi pada jam dua. Ia punya waktu dua puluh menit lagi. Raka selesai minum dan mengambil uang. Sebuah tas hitam ada di bawah meja. Tas itu bukan miliknya. “Bu, apakah tas ini milik kafe?” tanya Raka. Sari melihat tas itu dari belakang meja. “Bukan, Pak. Tadi belum ada tas di sana.” “Siapa yang duduk di meja ini?” “Beberapa orang. Saya tidak ingat semuanya.” Raka melihat daftar tulisan tangan di lantai. Daftar itu punya tiga kata pendek. Kopi hitam tanpa gula. Dua roti. Bus selatan jam dua. “Apakah daftar ini juga bukan milik kafe?” Sari mengambil daftar itu. “Bukan. Tapi saya ingat kopi ini.” “Siapa yang meminta kopi hitam tanpa gula?” “Seorang wanita. Dia duduk di meja itu.” “Apakah dia membeli dua roti?” Sari diam sebentar. Lalu ia melihat tempat roti. “Ya, dua roti. Dia membawa keduanya.” “Dia naik bus ke selatan?” “Saya tidak tahu. Dia pergi ke luar.” Raka melihat jam di dinding. Jam menunjukkan satu lewat lima puluh. Ia membuka tas sedikit, tetapi tidak mengambil apa-apa. Di atas ada buku, pakaian merah, dan obat. “Saya akan membawa tas ini ke bus.” “Bagaimana kalau tas itu bukan miliknya?” “Saya akan bertanya tentang kopi dan roti.” Raka keluar dari kafe dengan tas hitam. Bus besar sedang menunggu di depan. Beberapa orang masuk melalui pintu depan. Raka berdiri dekat pintu dan berkata, “Permisi, siapa membeli kopi hitam tanpa gula?” Dua orang melihat kepadanya. Tidak ada yang menjawab. Raka bertanya lagi, “Siapa membeli dua roti di kafe?” Seorang wanita di dalam bus berdiri cepat. “Saya membeli dua roti.” “Apakah Ibu juga minum kopi hitam?” “Ya. Tanpa gula. Kenapa?” Raka mengangkat tas hitam. “Apakah ini tas Ibu?” Wanita itu melihat tas tersebut. “Astaga, ya. Saya meninggalkannya di bawah meja.” “Siapa nama Ibu?” “Lina.” “Apa yang ada di dalam tas?” “Buku, pakaian merah, dan obat untuk besok.” Raka memberikan tas itu kepadanya. Lina memegang tas dengan kedua tangan. “Terima kasih. Saya baru sadar saat melihat daftar saya hilang.” “Daftar Ibu juga ada di kafe.” “Daftar itu penting. Nomor rumah anak saya ada di belakangnya.” Sari datang dari kafe sambil membawa daftar. “Apakah ini daftar Ibu?” Lina membaca bagian belakangnya. “Ya, ini milik saya.” Sopir melihat jam dan membuka pintu lebih lebar. “Bus akan pergi sekarang.” Raka naik dan duduk dekat jendela. Lina duduk di sebelah tas hitamnya. Lina membuka tas dan mengeluarkan dua roti. “Satu roti untuk saya. Satu roti untuk Anda.” Raka menerima roti itu saat pintu bus menutup.