Teh yang Dibutuhkan Hujan turun di jalan kecil di Yogyakarta, dan warung Bu Ningsih hampir kosong. Sari berdiri di dekat teko tua sambil membaca pesanan untuk ketiga kalinya. “Teh manis hangat, bukan teh susu,” kata Bu Ningsih. “Aku tahu, Bu,” jawab Sari. “Pesanan pagi tadi juga salah.” “Teko ini yang memilih.” “Teko tidak menerima uang dari pelanggan. Kita yang menerima uang.” Sari memegang teko dengan kedua tangan. Sejak ia mulai bekerja di warung itu, teko selalu memberikan minuman yang dibutuhkan pelanggan, bukan minuman yang mereka minta. Bu Ningsih mengetahui hal itu, tetapi pelanggan baru sering marah. Seorang laki-laki muda masuk sambil membawa radio kecil. Bajunya basah, dan rambutnya menutup sebagian wajahnya. “Permisi, apakah saya boleh duduk sampai hujan berhenti?” tanyanya. “Boleh,” kata Bu Ningsih. “Mau minum apa?” “Teh dingin tanpa gula.” Sari menarik napas lalu menuang teh dari teko. Teh yang keluar panas, manis, dan berwarna putih karena susu. Bu Ningsih melihat teh itu lalu melihat Sari. “Jangan katakan bahwa teko memilih lagi.” “Tapi memang begitu,” kata Sari pelan. Laki-laki itu menyentuh sisi gelas. “Ini panas.” “Maaf,” kata Sari. “Saya bisa mencoba lagi.” “Tidak perlu. Saya hanya tidak memesan ini.” Radio di atas meja tiba-tiba mengeluarkan suara kasar. Laki-laki itu cepat membuka bagian belakangnya, lalu tangannya mulai gemetar. “Radio itu rusak?” tanya Sari. “Besok saya mulai pekerjaan baru,” katanya. “Saya harus memperbaiki radio seperti ini, tetapi hari ini tangan saya tidak mau tenang.” Ia minum sedikit teh susu. Setelah itu ia minum lagi, lebih lama. Tangannya berhenti gemetar, lalu ia mengambil alat kecil dari tasnya. Bu Ningsih mendekat. “Radio warung kami juga rusak sejak minggu lalu.” “Boleh saya lihat?” Bu Ningsih mengambil radio dari bawah meja. Laki-laki itu memeriksa kabelnya, membersihkan bagian dalamnya, lalu memasang kembali bagian belakang. Musik pelan segera memenuhi warung. “Namaku Bima,” katanya. “Saya belum pernah memperbaiki radio secepat itu.” “Tehnya membantu?” tanya Sari. Bima melihat gelas yang hampir kosong. “Sepertinya saya memang tidak membutuhkan teh dingin.” Bu Ningsih membuka tempat uang dan menaruh beberapa lembar di meja. “Ini untuk radio, dan tehnya gratis.” Bima mendorong satu lembar kembali. “Bayarannya terlalu banyak.” “Kalau begitu, datanglah lagi untuk memeriksa radio ini.” Setelah Bima pergi, Bu Ningsih membersihkan meja tanpa bicara. Sari menunggu di samping teko, masih memegang catatan pesanan. “Apa saya masih boleh bekerja besok?” tanyanya. Bu Ningsih mengambil catatan itu, membaliknya, lalu menulis dengan huruf besar. “Mulai besok, tanyakan pesanan pelanggan, tetapi jangan berjanji mereka akan mendapatkannya,” katanya.