Angin ke Utara Pada sore hari kedua, Pulau Lero tampak seperti garis gelap di depan perahu. Rani berdiri dekat tiang layar, sementara Paman Banu memegang kemudi dengan kedua tangan. Mereka berangkat dari Makassar kemarin pagi untuk menghadiri pernikahan sepupu Rani. Angin sejak pagi mendorong mereka ke timur, tepat menuju Teluk Nira. Namun, ketika pulau mulai terlihat, layar mendadak berbunyi keras dan angin berbalik ke utara. “Turunkan layar sedikit,” kata Paman Banu. “Sedikit itu seberapa?” “Setengah. Jangan lepaskan talinya.” Rani menarik tali, tetapi simpulnya basah dan sulit bergerak. Hujan turun sebelum ia berhasil, lalu ombak pertama menghantam sisi perahu. Sebuah kotak makanan bergeser dan menabrak kaki Paman Banu. “Kita masih bisa masuk teluk?” tanya Rani. “Tidak dari sini. Ada karang di mulut teluk.” “Kalau kita memutar dari selatan?” “Kita tidak punya cukup bahan bakar.” Mesin kecil mereka hanya dipakai saat angin mati atau ketika perahu mendekati pantai. Paman Banu mencoba menyalakannya, tetapi mesin itu batuk dua kali lalu diam. Air hujan masuk ke bagian belakang perahu dan bercampur dengan bau minyak. Rani mengambil ember dan mulai membuang air. Di balik hujan, garis pulau hilang, sedangkan suara ombak terdengar dari arah karang. “Paman tahu kita ada di mana?” Paman Banu tidak segera menjawab. Ia membuka peta yang dibungkus plastik, tetapi satu sudutnya telah robek. “Aku tahu tempat kita tadi,” katanya. “Tadi bukan sekarang.” Petir menyala jauh di utara. Dalam cahaya singkat itu, Rani melihat dua batu tinggi di sebelah kiri. Ia pernah melihat bentuk batu itu pada peta, dekat jalan sempit menuju pantai barat. “Batu Kembar ada di sana,” katanya. “Kalau kita lewat sebelah kanannya, kita bisa masuk Selat Luma.” “Selat itu terlalu sempit saat ombak besar.” “Karang teluk juga terlalu dekat.” Paman Banu menatap batu, lalu menyerahkan kemudi kepadanya. “Jaga arah. Aku akan memperbaiki mesin.” Kemudi terasa berat, dan setiap ombak berusaha memutarnya. Rani menjaga Batu Kembar di sisi kiri, seperti tanda kecil yang tidak boleh pindah. Paman Banu membuka penutup mesin, membersihkan busi, lalu menarik tali mesin berkali-kali. Di depan mereka, air menjadi putih di atas karang. Rani mengubah arah sedikit, tetapi layar menangkap angin baru dan perahu miring tajam. “Sekarang, Paman!” teriaknya. Mesin hidup dengan suara kasar. Paman Banu menaikkan layar, sementara Rani membawa perahu melewati jalan sempit di antara batu. Ujung kemudi sempat menyentuh pasir, lalu air di bawah mereka menjadi dalam lagi. Hujan berhenti saat mereka masuk ke pantai barat Pulau Lero. Teluk Nira berada di sisi lain pulau, dan jalan darat menuju rumah pernikahan melewati bukit berlumpur. Mereka sudah terlambat, pakaian mereka basah, dan kotak makanan telah pecah. Paman Banu hendak mengambil kembali kemudi, tetapi Rani tetap memegangnya. “Duduklah,” kata Rani. “Kita belum sampai.”