Makan Malam di Tengah Macet Mobil keluarga Dika tidak bergerak di jalan Jakarta yang penuh. Dika memegang kemudi, lalu melihat lampu merah di depan seperti seorang penjaga. “Kita sudah di sini satu jam,” kata Rina sambil melihat jam. “Tidak, Bu, kita sudah tinggal di sini,” kata Bimo dari kursi belakang. Nala membuka jendela sedikit, lalu segera menutupnya karena udara panas masuk. “Kalau ini rumah baru kita, aku mau kamar dekat pintu.” Dika tetap melihat ke depan. “Kita akan bergerak sebentar lagi.” Rina melihat kotak makanan di dekat kakinya. Mereka membawa ayam, buah, dan kue untuk makan malam di rumah Nenek Sari. Bau ayam memenuhi mobil, dan Bimo mulai melihat kotak itu tanpa berhenti. “Jangan buka,” kata Rina. “Itu untuk makan bersama Nenek.” “Aku hanya melihatnya,” jawab Bimo. “Kau melihat dengan hidungmu juga?” tanya Nala. Lima menit kemudian, mobil di depan maju sedikit. Dika segera menjalankan mobil, tetapi ia berhenti lagi setelah dua langkah. “Nah, kita berhasil,” katanya. “Hebat, Ayah,” kata Nala. “Besok kita mungkin sampai di mobil depan.” Telepon Rina berbunyi, dan nama Nenek Sari muncul. “Halo, Bu, maaf, kami masih terjebak macet.” “Aku juga,” kata Nenek Sari. “Kalian ada di mana?” Dika menyebut warna mobil dan tanda besar di sebelah jalan. Tiba-tiba Bimo menunjuk ke sisi kanan dengan kedua tangan. “Itu Nenek!” katanya keras. Sebuah mobil kecil berada dua baris di kanan mereka. Nenek Sari membuka jendela dan mengangkat sebuah piring kosong seperti tanda. “Aku membawa piring, tetapi makanan ada pada kalian,” katanya melalui telepon. Rina menutup wajah dengan tangan. “Jadi, rumah Nenek kosong?” “Rumahku aman,” jawab Nenek Sari. “Makan malamnya yang sedang berjalan-jalan.” Bimo membuka kotak ayam sebelum ada yang bisa menghentikannya. Dika mematikan mesin karena semua mobil tetap diam. “Baiklah,” kata Rina. “Kita makan di mobil, tetapi jangan membuat mobil kotor.” Nala memberikan ayam kepada Bimo, lalu mengambil buah untuk dirinya sendiri. Rina memberikan satu bagian kepada Dika, yang masih memegang kemudi dengan serius. “Letakkan dulu tanganmu,” kata Rina. “Mobil ini tidak akan pergi tanpa izin.” Nenek Sari masih melihat mereka dari mobilnya. “Bagaimana dengan bagianku?” tanyanya lewat telepon. Bimo mengangkat sepotong ayam ke arah jendela. Jarak antara dua mobil terlalu jauh, dan seorang pria di mobil tengah melihat ayam itu dengan penuh harapan. “Bukan untuk Bapak,” kata Bimo dengan sopan. Pria itu mengangkat kedua tangan, lalu kembali melihat ke depan. Rina mengambil kotak kue dan memotongnya dengan pisau kecil dari dalam tas. “Kue ini seharusnya dimakan setelah makan malam,” kata Dika. “Ini sudah malam,” jawab Rina. “Dan kita sedang makan.” Akhirnya baris mobil bergerak, tetapi mobil Nenek Sari masuk tepat di belakang mereka. Telepon Dika berbunyi, dan suara Nenek Sari terdengar dari belakang. “Jangan cepat-cepat,” katanya. “Kue bagianku belum kau berikan.” Dika menyalakan mesin, melihat jalan yang kembali diam, lalu memberikan kotak kue kepada Bimo. “Pegang baik-baik, karena sekarang kita mengantar makan malam ke mobil belakang.”