Dua Cangkir Teh Hari ini penting bagi Ari. Ia datang ke tempat yang sama seperti setiap hari. Ia datang setelah bekerja. Ia duduk di tempat yang sama. Sari sudah melihatnya dari depan. “Selamat pagi, Ari,” kata Sari. “Selamat pagi, Sari. Teh seperti biasa.” “Teh panas?” “Teh panas. Satu.” Sari masuk ke belakang. Ari melihat jalan di depan tempat itu. Ada mobil, ada orang, dan ada anak sekolah. Ari membuka teleponnya. Ia melihat waktu. Ia menunggu. Bima datang dari jalan. Ia berdiri di depan tempat itu. “Ari?” “Bima. Kemari.” Bima masuk dan duduk di depan Ari. “Maaf, aku terlambat,” kata Bima. “Tidak apa-apa. Aku baru datang.” Ari melihat ke belakang. Sari membawa teh. Ia membawa dua cangkir. Satu cangkir ia letakkan di depan Ari. Satu cangkir ia letakkan di depan Bima. Ari melihat dua cangkir itu. “Sari, aku pesan satu.” “Saya tahu,” kata Sari. “Hari ini ada dua orang.” Bima melihat Ari. “Boleh saya minum?” “Boleh. Itu untukmu.” “Teh ini untuk saya?” “Ya. Teh ini untukmu.” Bima mengambil cangkir. Ia minum sedikit. “Tehnya bagus,” kata Bima. “Teh di sini memang bagus,” kata Ari. “Setiap hari kamu minum teh di sini?” “Setiap hari.” “Sendirian?” “Biasanya sendirian.” Sari berdiri di dekat meja. “Bima mau makan?” tanya Sari. “Tidak dulu. Saya punya sedikit uang.” “Aku punya uang,” kata Ari. “Tidak usah,” kata Bima. “Tidak apa-apa. Makan sedikit.” “Teh saja.” Sari melihat Bima, lalu melihat Ari. “Teh satu lagi?” “Tidak,” kata Ari. “Tidak,” kata Bima. Sari pergi ke belakang. Ia kembali membawa makanan kecil. Ia meletakkannya di antara dua cangkir. “Ini untuk dua orang,” kata Sari. Ari melihat makanan itu. “Sari, kami tidak minta.” “Saya tahu. Hari ini dua orang.” Bima mengambil makanan itu. Ia membagi makanan menjadi dua. “Setengah untukmu,” kata Bima. “Setengah untukmu,” kata Ari. Mereka makan pelan-pelan. Jalan di depan mulai ramai. Sari membersihkan meja lain. Ari melihat cangkir Bima yang hampir kosong. “Besok kamu datang lagi?” tanya Ari. Bima memegang cangkirnya. “Besok kamu tetap datang?” “Aku tetap datang.” “Kalau begitu, aku datang.” Sari mendengar jawaban itu dari belakang. “Besok dua teh?” tanya Sari. Ari melihat Bima. Bima melihat Ari. “Dua teh,” kata Ari. “Dua teh,” kata Bima. Sari mengambil dua cangkir kosong dari meja.