Raka Selalu Terlambat Hari ini toko jam Raka mulai bekerja. Semua orang di kota kecil itu tahu. Raka membuat jam kembali berjalan. Raka juga selalu datang terlambat. Pagi ini Mira menunggu di depan rumah. Ia memegang jam tangan Raka. Jam itu menunjukkan pukul tujuh. “Raka, sudah pukul tujuh,” kata Mira. “Ya, aku tahu,” jawab Raka dari kamar. “Tokomu buka pukul tujuh.” “Aku akan datang pukul tujuh.” “Sekarang sudah pukul tujuh.” “Kalau begitu, aku segera datang.” Mira menunggu sepuluh menit. Raka keluar dengan satu sepatu. Tangannya membawa jam meja yang besar. “Kenapa membawa jam itu?” tanya Mira. “Jam itu rusak,” kata Raka. “Aku harus membuatnya kembali berjalan.” “Tokomu juga belum berjalan.” “Tokoku tidak berjalan.” “Tokomu belum buka.” “Ya, itu masalahnya.” Raka masuk kembali ke kamar. Mira melihat jam tangan. Jam itu menunjukkan pukul tujuh lewat dua puluh. “Raka, kau terlambat,” kata Mira. “Aku tidak terlambat,” jawab Raka. “Jam tanganmu menunjukkan pukul tujuh lewat dua puluh.” “Jam tanganku salah.” “Jam meja juga salah?” “Jam meja belum tahu waktunya.” Mira diam. Raka mengambil alat, lalu membuka jam meja. Di dalamnya ada uang, kunci, dan sepotong roti. “Kenapa ada roti di dalam jam?” tanya Mira. “Aku lapar tadi malam.” “Kau makan roti di dalam jam?” “Tidak. Aku lupa.” Dari jalan terdengar suara orang. Seorang wanita berdiri di depan toko. Ia memegang jam tangan hitam. “Raka!” panggil wanita itu. “Aku datang untuk jamku.” Raka masih duduk di lantai. “Sebentar,” jawab Raka. Wanita itu melihat pintu toko. “Toko masih tutup,” katanya. “Ya, tetapi aku ada di sini.” “Di rumahmu.” “Rumahku dekat dengan toko.” “Tokomu ada di depan rumah ini.” “Berarti aku hampir sampai.” Mira melihat jalan. Toko itu memang berada di depan rumah. Pintu toko hanya beberapa langkah dari pintu rumah. “Raka, berdiri,” kata Mira. “Aku sedang bekerja.” “Kau sedang duduk.” “Aku sedang bekerja sambil duduk.” Wanita itu mengetuk pintu toko. “Raka, jamku berhenti sejak kemarin.” “Jamku juga berhenti,” kata Raka. “Jam tanganmu berjalan.” “Tidak tepat.” “Jam tanganmu menunjukkan pukul tujuh lewat tiga puluh.” “Kalau begitu, aku terlambat sepuluh menit.” “Sekarang kau terlambat tiga puluh menit.” Raka melihat jam meja. Jarumnya berhenti pada pukul enam. “Ini masalah besar,” katanya. “Masalah besarnya adalah kau belum membuka toko,” kata Mira. Raka segera berdiri. Ia memakai sepatu yang salah. Ia mengambil kunci, jam meja, dan roti. “Jangan bawa roti itu,” kata Mira. “Aku mungkin lapar.” “Kau harus memperbaiki jam wanita itu.” “Benar. Aku harus cepat.” Raka membuka pintu toko. Wanita itu memberikan jam hitamnya. “Berapa lama?” tanya wanita itu. “Lima menit,” kata Raka. Mira melihat jam tangan Raka. “Lima menit menurut jam yang mana?” tanyanya. Raka melihat tiga jam di dinding. Ketiganya menunjukkan waktu berbeda. “Menurut jam yang paling cepat,” jawabnya. “Jam yang paling cepat menunjukkan pukul delapan.” “Bagus. Aku tidak terlambat.” Wanita itu menunjuk pintu toko. “Kau membuka toko pukul tujuh.” Raka duduk di depan meja. Ia membuka jam hitam itu. Ia melihat roti di tangannya, lalu melihat alatnya. “Raka,” kata Mira, “itu roti, bukan alat.” “Aku tahu.” “Lalu kenapa kau memasukkannya?” Raka melihat jam hitam yang terbuka. “Karena aku terlambat makan.” Mira mengambil roti itu. Wanita itu mengambil jamnya. Raka mengambil alat. “Sekarang aku siap,” kata Raka. “Sekarang pukul delapan lewat lima,” kata Mira. Raka menutup toko. “Baiklah,” katanya. “Besok aku datang pukul tujuh.”